akuu

akuu
mayaaa.

Senin, 26 Desember 2011

MENGUBAH LIMBAH JAMBU METE MENJADI PELUANG BISNIS

Jambu mete adalah salah satu jenis tanaman industri yang dikembangkan di daerah dataran rendah beriklim kering. Tanaman ini juga bisa dibudidayakan di lahan kritis sebagai penghijauan maupun konservasi lahan. Produk jambu mete yang sering dijadikan komoditas usaha adalah bijinya.

Pengolahan biji jambu mete akan menghasilkan limbah berupa buah semu dan kulit atau cangkang biji. Karena dianggap sebagai limbah, buah semu biasanya dibuang begitu saja. Padahal buah semu sebenarnya bisa menghasilkan peluang usaha jika diolah lebih lanjut, yakni sebagai pakan ternak.

Buah semu bisa diolah menjadi pakan ternak yang baik jika dilakukan proses fermentasi terlebih dulu. Proses ini sangat diperlukan untuk meningkatkan nilai gizi buah semu yang sebelumnya rendah. Dengan proses fermentasi, kadar protein dan kalori bisa ditingkatkan sedangkan kadar serat kasarnya bisa diturunkan. Jika diolah lebih lanjut, yakni dengan mengeringkannya, buah semu bisa menjadi tepung dan bertahan hingga enam bulan. Pakan berbentuk tepung dari buah semu jelas lebih praktis serta mudah dalam penyimpanan, pengangkutan, dan pencampurannya ketika diberikan kepada ternak. Dengan penepungan, stok pakan akan selalu tersedia di luar musim panen sekalipun.

Prosedur fermentasi membutuhkan mikroba tertentu agar prosesnya bisa berjalan efektif. Mikroba yang mampu menghasilkan fermentasi terbaik dalam pengolahan limbah mete adalah jenis Aspergillus Niger. Aspergillus Niger merupakan sejenis jamur yang bisa hidup dalam kondisi ada oksigen (aerob) maupun tanpa oksigen (anaerob). Dengan demikian penggunaan jamur ini dalam proses fermentasi akan membuat lebih praktis karena proses fermentasi tidak harus berada dalam tempat yang tertutup rapat. Dengan memperbanyak jumlah Aspergillus Niger, maka proses fermentasi akan berjalan lebih efektif lagi.

Proses aktivasi dan pembiakan Aspergillus Niger membutuhkan sejumlah bahan. Di antaranya adalah gula pasir, urea, dan NPK, masing-masing sebesar 1% dari berat air. Jika diganti dengan campuran gula pasir dan ekstrak tauge (kecambah kacang hijau), maka komposisi masing-masing sebesar 2,5% dari berat air. Dengan proses pembiakan ini, dari 1 liter Aspergillus Niger bisa dikembangkan menjadi 200 liter.

Air yang dipergunakan pun juga harus diperhatikan. Harus terjaga kebersihannya dan tidak mengandung kaporit sebagaimana air PAM. Jika terpaksa menggunakan sungai ataupun air yang kotor, maka harus dimasak terlebih dahulu hingga benar-benar mendidih. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh mikroba yang terdapat di dalamnya. Setelah air masak dan didinginkan, baru kemudian gula pasir, urea,dan NPK atau kombinasi dari gula pasir dan ekstrak tauge dimasukkan ke dalamnya dan diaduk hingga larut. Kemudian bibit Aspergillus Niger masukkan sebesar 0,5% dari volume air.

Proses berikutnya adalah aerasi selama 30-48 jam. Anda tidak perlu bingung jika tidak memiliki aerator. Alternatifnya yaitu dengan membiarkan larutan tadi selama 72 jam baru kemudian bisa digunakan. Ketika tiba pada proses aktivasi, seluruh bahan harus ditaruh di tempat yang teduh dan tertutup agar tidak terkontaminasi oleh mikroba.

Sebelum proses fermentasi dilakukan, limbah mete yang masih mengandung air sebesar 60% perlu dikurangi kadar airnya. Bisa dicacah terlebih dulu baru kemudian diperas secara manual. Bisa juga langsung diperas secara manual maupun menggunakan alat. Setelah itu limbah diratakan dalam suatu wadah dengan ketebalan sekitar 5-10 cm lalu larutan Aspergillus Niger disiramkan di atasnya hingga merata. Kemudian di atasnya diratakan lagi dengan limbah mete dan dibasahi kembali dengan larutan Aspergillus Niger hingga semua permukaan benar-benar basah. Baru limbah bisa ditutup dengan goni, kain, ataupun plastik agar limbah terjaga kelembabannya dan terhindar dari mikroba.

Proses fermentasi idealnya berlangsung selam 4-6 hari agar terjadi dekomposisi secara sempurna. Kurang dari itu, biasanya dekomposisi tidak terjadi secara sempurna.

Pada hari kelima, wadah fermentasi bisa dibuka dan proses pengeringan dilakukan dengan menjemurnya selama 2-3 hari di bawah terik matahari. Setelah limbah benar-benar kering lalu digiling dengan menggunakan penggiling gaplek atau bisa juga dengan penggiling kopi. Tepung yang didapatkan dari proses penggilingan tersebut bisa langsung diberikan sebagai pakan ternak, khususnya untuk kambing, sapi, dan kerbau. Namun jika ingin menyimpannya, bisa menggunakan karung goni ataupun kantong plastik yang kering dan menutupnya dengan rapat. Limbah yang sudah berubah menjadi pakan ini bisa bertahan hingga enam bulan.

Pakan yang terbuat dari limbah mete memiliki keunggulan. Dari segi gizinya, pakan tersebut memiliki kandungan protein yang tinggi serta serat kasar yang lebih rendah. Pakan dari limbah ini sifatnya adalah makanan pendamping. Artinya makanan pokok dari ternak seperti daun-daun hijau tetap harus diberikan. Kadar pakan yang diberikan disesuaikan dengan berat badan ternak, yakni berkisar 0,7-1,2% berat badan ternak. Jika pakan diberikan pada unggas, maka bisa dicampurkan langsung pada makanan unggas tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BPPT Bali, pemberian pakan limbah mete terfermentasi bisa meningkatkan bobot ternak secara signifikan. Dari nilai ekonomisnya, pemberian pakan tersebut bisa memberikan keuntungan sebesar Rp. 32 ribu per 12 minggu atau sebesar Rp. 11 ribu per bulannya untuk setiap ekor kambing jika dibandingkan dengan pemeliharaan secara tradisional.

Peluang keuntungan tersebut bisa Anda manfaatkan untuk mengembangkan usaha baru. Apalagi kompetitornya juga belum ada. Jadi, tunggu apalagi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar